Jumat, 27 Mei 2011

RUMPUT GAJAH SEBAGAI PAKAN TERNAK

Rumput Gajah
PENDAHULUAN
Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan, termasuk ke dalam kelompok makan an hijauan ini adalah rumput (Graminae), Leguminosa dan hijauan dari tum buhan-tumbuhan lainnya. Seperti Scrubs, Forbs.
Kelompok makanan hij auan ini biasanya disebut makanan kasar, hijauan sebagai bahan makanan t ernak biasanya diberikan dalam dua bentuk yaitu hijauan segar dan hijaua n kering. Yang dimaksud dengan hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hiajauan yang diberikan dalam bentuk segar, yang termasuk hiajauan segar ialah rumput segar dan leguminosa segar. Sedangkan hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja di keringkan sepert i Hay, Haylage dan Silage. Sebagai makanan ternak, hiajauan memegang per anan sangat penting, karena hijauan mengandung semua zat yang diperlukan hewan, dan khususnya di Indonesia bahan makanan hijauan memegang perana n yang istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar.

TINJAUAN PUSTAKA
Hijauan mkanan ternak merupakan makanan pok ok bagi hewan memamah biak diantaranya adalah ternak sapi. Karena hijaua n ini digunakan sebagai makanan pokok sudah tentu berpengaruh besar terh adap terhadap produksi ternak. ( lubis, 1973).
Salah satu penyebab kemerosotan populasi dan produksi ternak ruminansia adalah faktor makana n, di mana sumber hijauan sebagai makanan pokok ternak ruminansia amatla h terbatas. Ternaka ruminansia di Indonesia dewasa ini masih bertahan ka rena mengandalkan kepada sumber hijauan di luar usaha tani dan sebagian dari hasil ikutan usaha tani. Oleh karena itu baik kuantitas maupun kual itas hijauan sebagai makanan pokok ternak ruminansia jauh dari mencukup i. (Atmadilaga, 1974).
Lopez. ( 1978 ) menyatakan, bahwa kemajuan ternak dapat dicapai dengan memperbaiki breed – breed ternak. Tet api breed yang unggul ini hanya akan memperlihatkan potensinya apabila d iberikan makanan yang baik, yaitu makanan hijauan yang berkualitas tingg i. Padang –padang rumput di daerah tropis yang ditumbuhi rumput al am pada umumnya berproduksi rendah dengan kualitas yang buruk, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi yang tinggi dari ternak &# 8211;ternak tersebut. ( turner, 1969 ).
Menurut Van Soest. ( 1978 ) , hijauan pada saat dipotong atau dipanen merupakan hasil gabungan antar a pertumbuhan tanaman dan faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi fotosintesis dari energi dan zat – zat makanan dari tanaman terse but. Kondisis lingkungan selama pertumbuhan tanaman, menentukan komposis i kimia dan nilai makanan hijauan tersebut. Lopez ( 1978 ) menyatakan, b ahwa beberapa faktor yang dapat mempengaruhi komposisi kimia dan nialai makanan dari rumput antara lain, umur hijauan, musim, kandungan air / k elembaban dan kesuburan tanah.
Deskripsi dan Sifat Rumput Gajah
Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen ya ng diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua rumput CP- nya semakin menurun. Pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkiraka n mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hin gga 55%. Batang-batangnya kurang begitu disukai ternak (karena keras) ke cuali yang masih muda dan mengandung cukup banyak air.
Rumput ini s ecara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rum pun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbu lu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing .
Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun ke langsungan hidup serbuk sari sangat kurang sehingga menjadi penyebab uta ma dari penentuan biji yang lazimnya buruk. Disamping itu, kecambahnya l emah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum ditanam dan diper banyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit vege tatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu 2 bulan. Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas ya ng lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah meskipun hasilnya akan berbeda. Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang t erus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepan jang pinggiran hutan.
Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik de ngan cara membagi rumpun akar dan bonggol maupun dengan stek batang (min imal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan t angan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu. Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang le bih kering jaraknya lebih lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai da ri 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur dengan tanaman lain semisa l ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah. Untuk mendapatkan hasil dan ketahanan tinggi, rumput ini ditanam dengan pengairan yang te ratur dan pemupukan yang cukup. Pemupukan yang banyak diterapkan biasany a bila rumput sering dipotong / dipanen.
Kandungan nutrien setiap t on bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg; Ca:3-6 kg; Mg d an S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenany a banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan (legume), namun tetap dapat dikombinasika n dengan baik.
Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemup ukan yang baik pula. Dengan memanen pada pertumbuhan yang masih muda ata u dengan menggunakan kultivar yang baik akan mencapai nilai pakan yang t inggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara mekan is atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.
Manfaat Hijaua n Pakan
Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, den gan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pa kan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
Kelompok hasil sampi ngan serealia (limbah penggilingan)
Kelompok umbi (ketela rambat, k etela pohon dan hasil sampingannya)
Kelompok hijauan yang terdiri d ari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput seta ria).
Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua b ahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
Kel ompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun- daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela ra mbat, ganggang dan bungkil)
Kelompok bahan yang dihasilkan dari hew an (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).
Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tan aman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsen trasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengola han, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Di samping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpan an terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya. Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mi neral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bah an olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, k apur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

METODE KERJA
Alat da n Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah
Cangkul
Pisau
Grek
Pupuk kandang
Tali dan
Selang air
Cara kerja
Adapun yang dilakukan selama praktikum adalah
Peng olahan lahan dan penggemburan
Pemilihan bibit; bibit yang baik sang at berpengaruh terhadap pertumbuhan, bibit yang baik yang besar dan berr uas dekat
Penanaman bibit; bibit berbentuk stek dan dipotong sepanj ang 3 ruas, 2 ruas di tanam ke dalam tanah, rumput ditanam minimal 2 bat ang per lubang
Pemupukan ; pupuk yang diberikan jenis pupuk kandang
Pemeliharaan (menyiram) rumput disiram 2 kali sehari
Pemotong an; rumput dipotong jika sudah berumur 48-60 hari

PEMBAHASAN< br />Pengenalan Rumput Gajah
Pennisetum purpureum. Nama daerah: Ele phant grass, napier grass (Inggris), Herbe d’C3A9lC3A9phant, f ausse canne C3A0 sucre (Prancis), Rumput Gajah (Indonesia, Malaysia), Buntot-pusa (Tagalog, Filipina), Handalawi (Bokil), Lagoli (Bagobo), Ya- nepia (Thailand), Co’ duC3B4i voi (Vietnam), pasto elefante (Spa nyol)
Asal-usul Pennisetum purpureum (Rumput Gajah) dan persebaran geografi: Berasal dari Afrika tropika, kemudian menyebar dan diperkenalk an ke daerah daerah tropika di dunia, dan tumbuh alami di seluruh Asia T enggara yang bercurah hujan melebihi 1.000 mm dan tidak ada musim panas yang panjang. Dikembangkan terus menerus dengan berbagai silangan sehing ga menghasilkan banyak kultivar, terutama di Amerika, Philippine dan Ind ia.
Rumput gajah merupakan keluarga rumput rumputan (graminae ) yan g telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (Ruminansia ) yang alamiah di Asia Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara membabat seluruh pohonnya lalu diberikan langsung (cut and carry) sebag ai pakan hijauan untuk kerbau dan sapi, atau dapat juga dijadikan persed iaan pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase da n hay. Selain itu rumput gajah juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa tana h yang baik. Di Indonesia sendiri, rumput gajah merupakan tanaman hijaua n utama pakan ternak. Penanaman dan introduksi nya dianjurkan oleh banya k pihak.
Adaptasi Rumput Gajah
Rumpu gajah tumbuh tegak memben tuk rumpun, tinggi dapat mencapai antara 1,8-2,4 m, tumbuh baik didaer ah pegunungan, sangat disukai ternak, tahan kering dan berproduksi tingg i, rumput dapat tumbuh pada struktur tanah sedang sampai berat, kurang t ahan terhadap genangan air, responsif terhadap pemupukan. Produksi rumpu t gajah dapat mencapai 150 – 200 ton/ha/thn.
Kultur teknik
Rumput gajah ini umumnya diperbanyak dengan stek, karena daya tumbuh dari biji sangat rendah. Tanaman ini sangat cocok disimpan dalam bentuk silase dan mempunyai palatabilitas yang tinggi. Produksi bahan kering be rkisar 4000 – 9000 kg / Ha per tahun. Kandungan protein kasar dapa t mencapai 11.3 % dan serat kasar 39.2 %.
Cara- cara penanaman
penanaman rumput gajah dilakukan dengan metoda perbanyakan vegetatif. C ara yang umum diterapkan adalah dengan stek batang dan memecah anakan. C ara yang pertama memungkinkan perbanyakan dengan lebih cepat, namun agak sedikit lebih lambat pertumbuhannya dibandingan dengan cara anakan atau pols. Cara penanaman yang biasa kami lakukan adalah sebagai berikut:
Pengolahan Lahan
Proses penanaman rumput gajah dimulai pada deng an pengolahan lahan yaitu dengan melakukan pembersihan lahan dari tanama n gulma, memisahkan bibit yang masih dapat digunakan untuk kemudian dila kukan pembalikan tanah serta pembuatan ulang dan rekondisi galur tanam.< br />Pupuk Dasar dan Penanaman Setelah melakukan pengolahan lahan, dilan jutkan dengan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang (manure sapi) se kitar 20 kg (±1 ton/ha) dan dilanjutkan dengan mengguludkan lahan tanam.
Kemudian dilakukan penanaman dengan metoda stek batang. Untu k satu rumpun ditanam minimal 2 batang, yang masing masing batang terdir i sekurangnya dari 3 ruas. Kami mengusahakan 2 ruas terbenam di dalam ta nah.
Pemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan juga d engan pupuk kandang. Pemupukan kedua ini biasanya dibarengi dengan penya ueran (menimbunkan tanah dan rumput liar untuk meninggikan guludan).
Pemupukan untuk selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan mengguna kan pupuk kandang sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan, da n 1 kali pada musim kemarau.
Bibit rumpu gajah di tanam secara stek ( potongan batang ) pada tempat yang sudah di sedia, sebelum bibit di t anam, jarak tanam 60 x 40 cm. selanjutnya setelah tanah disekitar bibit tanahnya di injak untuk memedat kan tanah.
Perawatan Rumput
Se telah selesai penanaman dilakukan penyiangan atau weeding yang bertujuan untuk memberantas jenis – jenis rumput liar ( weed ) yang menggan ggu tanaman pokok. Sehingga dengan tidak adanya tanaman liar maka tanama n pokok dapat hidup dengan baik. Selain penyiangan juga dilakukan pendan giran yang bertujuan untuk menggemburkan tanah kembali. Agar proses pere daran udara dan air dalam tanah lebih sempurna. Pendangiran ini dilakuka n setelah tanaman hijauan berumur satu bulan atau pada setiap rumput set elah selesai panen.
Pemotongan
Pada musim penghujan secara umu m rumput gajah sudah dapat dipanen pada usia 40 - 45 hari. Sedangkan pad a musim kemarau berkisar 50 - 55 hari. Lebih dari waktu tersebut, kandun gan nutrisi semakin turun dan batang semakin keras sehingga bahan yang t erbuang (tidak dimakan oleh ternak) semakin banyak.
Sedangkan menge nai panen pertama setelah tanam, menurut pengalaman kami dapat dilakukan setelah rumput berumur minimal 60 hari. Apabila terlalu awal, tunas yan g tumbuh kemudian tidak sebaik yang di panen lebih dari usia 2 bulan.
Dalam hal ini pemotongan dilakukan setelah tanaman berumur 45 hari, d an tinggi pemotongan adalah 150 cm dari permukaan tanah.

PENU TUP
Kesimpulan dalam usaha di bidang hijauan makanan ternak sangat tergantung pada tersedianya bibit dan tata laksana pemeliharaan yang bai k.
Maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
Perlakuan te rhadap tata laksana yang baik seperti: pengolahan tanah, pembibitan dan penanaman, pemupukan, serta perawatan/penyiraman dimusim kemarau sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi Rumput gajah.
Panen a tau pemotongan yang tepat dan baik akan berpengaruh terhadap kualitas ba han segar maupun bahan kering Rumput Gajah.
Tanaman Rumput gajah ha rus diremajakan setelah berumur 3-4 tahun, karena sangat berpengaruh ter hadap nilai, bentuk dan jumlah makanan.

DAFTAR PUSTAKA
A tmadilaga, D. 1974. Sumber-sumber Potensial bagi Pengembangan Peternakan di Jawa Barat. Bandung.
Lopez, 1978 Evluation of Forages Qualit y and the laboratory IV. Five grass species Philiphe journal of veterina ry and Animal Science. Volume IV No.2.
McIlroy, R.J. 1977. Penganta r budi daya padang rumput tropica. PT. Paramita. Jakarta.
Susetyo, Kismono dan Bejo Soewardi 1969. Hijauan makanan ternak. Direktorat Peter nakan Rakyat, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jaka rta.
Turnner, H.L. 1969. Genetic Improvement of Reproduction Rate i n Sheep. Animal Breeding Abstracts. Vol 37. No. 4 pp.545-559.
Van S oest, P.J,1968. Compotition Maturiti and Nutrtive Value for Forages. Vis Departemen of Agricultural Reseach Service, Animal Husbandry Reseach D ivision, Beltswilla.

RUMPUT GAJAH

Pengantar

Pennisetum purpureum Schumach.
Nama daerah: Elephant grass, napier grass (Inggris), Herbe d’éléphant, fausse canne à sucre (Prancis), Rumput Gajah (Indonesia, Malaysia), Buntot-pusa (Tagalog, Filipina), Handalawi (Bokil), Lagoli (Bagobo), Ya-nepia (Thailand), Co’ duôi voi (Vietnam), pasto elefante (Spanyol)

Asal-usul dan persebaran geografi: Berasal dari Afrika tropika, kemudian menyebar dan diperkenalkan ke daerah daerah tropika di dunia, dan tumbuh alami di seluruh Asia Tenggara yang bercurah hujan melebihi 1.000 mm dan tidak ada musim panas yang panjang. Dikembangkan terus menerus dengan berbagai silangan sehingga menghasilkan banyak kultivar, terutama di Amerika, Philippine dan India.

Rumput gajah merupakan keluarga rumput rumputan (graminae ) yang telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (Ruminansia) yang alamiah di Asia Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara membabat seluruh pohonnya lalu diberikan langsung (cut and carry) sebagai pakan hijauan untuk kerbau dan sapi, atau dapat juga dijadikan persediaan pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase dan hay. Selain itu rumput gajah juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa tanah yang baik.
Di Indonesia sendiri, rumput gajah merupakan tanaman hijauan utama pakan ternak. Penanaman dan introduksi nya dianjurkan oleh banyak pihak.

Deskripsi dan Sifat Rumput Gajah

Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun)
Pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hingga 55%. Batang-batangnya kurang begitu disukai ternak (karena keras) kecuali yang masih muda dan mengandung cukup banyak air.

Rumput ini secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing.

king-grass 2 minggu setelah panen

King-Grass 2 minggu setelah panen

Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun kelangsungan hidup serbuk sari sangat kurang sehingga menjadi penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk. Disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum ditanam dan diperbanyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu 2 bulan.

Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah meskipun hasilnya akan berbeda. Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang terus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepanjang pinggiran hutan.

Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun akar dan bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu. Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang lebih kering jaraknya lebih lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai dari 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur dengan tanaman lain semisal ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah.

Untuk mendapatkan hasil dan ketahanan tinggi, rumput ini ditanam dengan pengairan yang teratur dan pemupukan yang cukup. Pemupukan yang banyak diterapkan biasanya bila rumput sering dipotong / dipanen.

Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg; Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenanya banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan (legume), namun tetap dapat dikombinasikan dengan baik.

Penyakit yang biasa menyerang yaitu kutu Helminthosporium sacchari. Tindakan yang paling baik untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan kultivar yang tahan penyakit tersebut. Namun demikian secara umum kami tidak menemukan serangan hama pada rumput gajah yang ditanam. Kebanyakan hanya merupakan serangan belalang dan ulat yang masih bisa di tolerir.

Rumput gajah dapat dipanen sepanjang tahun. Biasanya rumput ini diberikan dalam bentuk segar, tetapi dapat juga diawetkan sebagai silase. Hasil bahan kering setiap tahun diharapkan berkisar 2 – 10 ton/hektar untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk yang sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya berkisar antara 6 – 40 ton/hektar.

Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemupukan yang baik pula. Dengan memanen pada pertumbuhan yang masih muda atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan mencapai nilai pakan yang tinggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara mekanis atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.
Hasil Pengamatan

Kami telah mencoba menanam rumput ini di berbagai tempat, baik di daerah pesisir pantai selatan pada ketinggian berkisar 0 – 200 m dpl, maupun di home base Manglayang Farm pada ketinggian 900 – 1100 m dpl. Dengan berbagai kondisi tanah / alam dan perlakuan yang berbeda. Hasil yang didapat pun berbeda beda tentunya .
Yang menarik, di Indonesia ternyata ada lebih dari 1 jenis rumput gajah, apa saja ?

Jenis Kultivar di Indonesia

Sekurangnya menurut pengetahuan kami berdasarkan obrolan dengan rekan di BIB Lembang, ada empat kultivar yang ada di Indonesia. Rumput gajah semuanya merupakan introduksi dan bukan jenis rumput lokal.

Kultivar rumput gajah tersebut adalah King Grass (P. purpureum cv. King Grass), Taiwan (P. purpureum cv. Taiwan), Hawaii (P. purpureum cv. Hawaii) dan Africa (P. purpureum cv. Africa). Namun karena memang bentuknya yang satu sama lain sangat mirip, agak sulit membedakannya (setidaknya bagi mata awam seperti kami).
Namun demikian ada sedikit panduan yang diberikan oleh rekan di BIB Lembang untuk menentukan berbagai kultivar tersebut.

King: Batang dan daunnya paling raksasa (karena itulah dia disebut King Grass), daunnya berbulu kasar dan akan terasa perih bila memanen rumput ini tanpa menggunakan baju tangan panjang (percayalah, penulis sudah merasakannya). Batangnya keras. Produktivitas tinggi, menurut pengamatan kami dapat mencapai 200 – 250 ton per hektar per tahun. Pada daun muda, pangkal daunnya memiliki bercak bercak berwarna hijau muda.
Pengamatan kami, produksi per rumpun di Cijayana bisa lebih dari 7 kilogram (basah) per panen.

Bercak hijau muda di sekitar pangkal daun King Grass.

Bercak hijau muda di sekitar pangkal daun King Grass.

Rumput Gajah King Grass di desa Cimahi, kec. Caringin, kab. Garut. Berumur sekitar 8 bulan sejak hari tanam.

Rumput Gajah King Grass di desa Cimahi, kec. Caringin, kab. Garut. Berumur sekitar 8 bulan sejak hari tanam.

Taiwan: Cukup raksasa, dapat mencapai 4 -5 meter. Kultivar ini yang disenangi dan dianjurkan oleh BIB Lembang untuk ditanam. Batangnya lunak, daun lebar berbulu lembut, tingkat nutrisi cukup baik. Ciri ciri lain adalah pada batang muda pangkal batangnya bawah yang dekat ke tanah berwarna kemerah merahan. Namun beberapa rekan peternak di Lembang kurang menyukai kultivar ini karena lunaknya batang tersebut sehingga cenderung mudah roboh apabila diterpa angin kencang. Produktivitas tinggi, bisa mencapai 300 ton / hektar per tahun dengan kondisi pemupukan dan pemeliharaan optimal. Selain itu, Taiwan (juga King Grass) membutuhkan air yang cukup banyak. Pengamatan kami, produksi per rumpun bisa lebih dari 7 kilogram (basah) per panen.

Batang berwarna kemerah merahan merupakan ciri kultivar Taiwan (Cijayana).

Batang berwarna kemerah merahan merupakan ciri kultivar Taiwan (Cijayana).

Africa: Batang kecil dan keras. Daun kecil. Tumbuh tunas tunas kecil pada ketiak batang. Sehingga apabila terbiasa melihat King Grass atau Taiwan yang sehat, melihat Africa seperti melihat rumput kerdil . Kultivar ini yang banyak ditanam di Manglayang Farm. Kenapa ? Hipotesa kami adalah kultivar ini yang pertama kali masuk dan dikembangkan di daerah Manglayang. Keunggulan dari Africa adalah kebutuhan airnya yang tidak terlalu banyak. Sehingga pada musim kering pun masih dapat tumbuh dengan cukup baik. Produktivitas tidak terlalu tinggi, menurut pengamatan kami hanya sekitar 1 -2 kilogram / rumpun (basah) per panen (sekitar 100 ton per hektar per tahun).

Rumpun rumput gajah Africa yang sudah tua, perhatikan batangnya yang kecil.

Rumpun rumput gajah Africa yang sudah tua, perhatikan batangnya yang kecil.

Hawaii: Nah ini kultivar yang paling sulit membedakannya. Hawaii memiliki batang dan daun yang lunak tapi tidak terlalu besar. Lebih mirip ke Taiwan hanya lebih kecil. Tidak heran, karena kultivar ini merupakan induk dari kultivar Taiwan yang merupakan hibrid King Grass dengan Hawaii.

Sedangkan menurut literatur yang ada di Internet, kultivar yang ada di dunia banyak sekali, namun kultivar kultivar yang disebutkan di atas sulit sekali dicari referensinya, kecuali King Grass dan Taiwan. Disebutkan disana King Grass merupakan hasil silangan antara P. purpureum biasa dengan Pearl Millet (Pennisetum galucum).

Kultivar yang cukup menarik adalah tipe Dwarf (kerdil), yaitu Pennisetum purpureum cv. Mott. Disebutkan bahwa kultivar ini memiliki karakteristik perbandingan rasio daun yang tinggi dibandingkan batang. Berkualitas nutrisi tinggi pada berbagai tingkat usia dibandingkan jenis rumput tropis lainnya. Tahan kekeringan, dan hanya bisa di propagasi melalui metoda vegetatif. Menurut beberapa literatur, jenis ini sudah dibudidayakan di Indonesia, tapi sayangnya penulis belum berhasil menemukan contoh bibit. Ada yang punya ?

Metoda Penanaman

Seperti telah disinggung diatas, penanaman rumput gajah dilakukan dengan metoda perbanyakan vegetatif. Cara yang umum diterapkan adalah dengan stek batang dan memecah anakan. Cara yang pertama memungkinkan perbanyakan dengan lebih cepat, namun agak sedikit lebih lambat pertumbuhannya dibandingan dengan cara anakan atau pols. Cara penanaman yang biasa kami lakukan adalah sebagai berikut:

1. Pengolahan Lahan
Proses penanaman rumput gajah dimulai pada dengan pengolahan lahan yaitu dengan melakukan pembersihan lahan dari tanaman gulma, memisahkan bibit yang masih dapat digunakan untuk kemudian dilakukan pembalikan tanah serta pembuatan ulang dan rekondisi galur tanam.

2. Pupuk Dasar dan Penanaman
Setelah melakukan pengolahan lahan, dilanjutkan dengan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang (manure sapi) sekira 3 ton (± 1 ton/ha) dan dilanjutkan dengan mengguludkan lahan tanam.
Kemudian dilakukan penanaman dengan metoda stek batang. Untuk satu rumpun ditanam minimal 3 batang, yang masing masing batang terdiri sekurangnya dari 3 ruas. Kami mengusahakan 2 ruas terbenam di dalam tanah.
3. Pemupukan Kedua
Pemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 60 kg / hektar. Pemupukan kedua ini biasanya dibarengi dengan penyaueran (menimbunkan tanah dan rumput liar untuk meninggikan guludan).

4. Pemupukan Lanjutan
Pemupukan kimia selanjutnya dilakukan pada musim hujan yang akan datang. Untuk selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan, dan 1 kali pada musim kemarau.

5. Pemeliharaan
Pemeliharaan pada tahun pertama dapat di rinci sebagai kegiatan pemupukan dan penyiangan/pembersihan gulma seperti berikut (pada lahan 3.2 hektar):

Pemupukan
Pupuk Kandang 3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 Hari Orang Kerja (HOK)
Pupuk Kimia 1 hari x 4 orang x 1 kali per tahun = 4 HOK

Penyiangan
3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 HOK
Sehingga total pemeliharaan pada tahun pertama adalah 52 HOK

Sedangkan pada tahun kedua dan selanjutnya karena diharapkan sudah tidak menggunakan pupuk kimia maka yang dibutuhkan hanya 48 H.O

Pola Tanam

Pola tanam menggunakan berbagai metoda. Ada yang menggunakan metoda lorong polikultur (alley cropping) dengan tanaman sela, ada juga yang menggunakan sistem monokultur / tunggal.

Pada pola lorong, rumput gajah ditanam dengan tanaman sela jagung (Zea mays), Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) atau Kacang Tanah (Arachis hypogaea) menggunakan jarak dalam barisan ± 50 cm dan jarak antar barisan ± 250 cm (50 x 250 cm).
Penanaman rumput gajah dengan pola lorong (Alley Cropping)

Penanaman rumput gajah dengan pola lorong (Alley Cropping)

Diproyeksikan jumlah baris dapat mencapai sekitar 100 baris, dimana setiap baris dapat mencapai rata rata 259 rumpun, sehingga total dalam lahan tersebut mampu menampung rumpun sebanyak 25.900 rumpun.
Namun kenyataan di lapangan setelah dilakukan penghitungan rumpun, efektif tertanam hanya 9.686 rumpun (37%) sehingga rata rata penyebaran rumpun per hektar nya hanya mencapai 2866 rumpun (total 121 baris x ± 80 rumpun) dengan total luasan efektif tertanam rumput gajah hanya 8.100 m2. Kondisi ini disebabkan luasan efektif yang dapat ditanami berkurang selain akibat adanya tanaman sela, juga disebabkan berbagai kondisi lapangan yang kurang menguntungkan dan tidak dapat ditanami, seperti adanya genangan/rawa, tanah berbatu, adanya embung dan bak serta lahan yang sudah ditanami leguminosa jenis Gamal (Gliricidia sepium) dan tanaman lain.

Sedangkan pola tanam yang dianjurkan oleh BIB Lembang dilakukan dengan menggunakan pola monokultur dan lebih rapat. Hal ini tentu berkaitan dengan treatment dan perawatan yang optimal yang perlu diberikan. Jarak tanam dalam barisan berkisar 70-100cm dan jarak antar barisan 70-100cm.
Pemanenan

Pada musim penghujan secara umum rumput gajah sudah dapat dipanen pada usia 40 – 45 hari. Sedangkan pada musim kemarau berkisar 50 – 55 hari. Lebih dari waktu tersebut, kandungan nutrisi semakin turun dan batang semakin keras sehingga bahan yang terbuang (tidak dimakan oleh ternak) semakin banyak.
Sedangkan mengenai panen pertama setelah tanam, menurut pengalaman kami dapat dilakukan setelah rumput berumur minimal 60 hari. Apabila terlalu awal, tunas yang tumbuh kemudian tidak sebaik yang di panen lebih dari usia 2 bulan.

Kesimpulan Sementara

Rumput gajah merupakan tanaman yang cukup baik untuk kebutuhan hijauan pakan ternak, baik dilihat dari tingkat pertumbuhan, produktivitas hasil panen maupun nutrisi (terutama kandungan serat) yang terkandung di dalamnya.
Lain daripada itu, selain sebagai hijauan segar, surplus produksi rumput gajah juga dapat digunakan sebagai cadangan pakan dalam bentuk kering (hays) ataupun fermentasi dengan metoda silase setelah terlebih dahulu di cacah.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah nilai investasi dan biaya operasional rumput gajah yang tinggi.
Hal ini disebabkan biaya olah lahan, penanaman, pemupukan, perawatan dan pemanenan rumput gajah yang cukup mahal tanpa dibarengi dengan nilai ekonomis dari rumput gajah.
Seperti diketahui, saat ini rumput gajah belum dianggap sebagai komoditi ekonomi yang biasa di perjual belikan. Terutama pada musim hujan. Pada musim kemarau, di beberapa sentra sapi (terutama sapi perah) rumput ini sudah mulai memiliki nilai ekonomis.

Tapi tetap akan berbeda dengan nilai ekonomis yang bisa diperoleh apabila lahan yang ada ditanami dengan berbagai tanaman produktif baik musiman maupun tanaman keras.
Operasional akan semakin tinggi apabila lahan penanaman rumput terletak jauh dari kandang, sehingga akan menaikkan upah dan ongkos angkut yang harus dibayarkan untuk pemeliharaan dan panen.

Beberapa solusi (yang tidak semuanya dapat secara praktis dilakukan) adalah:

1. Penanaman rumput gajah harus dilakukan di areal yang dekat dan sekitar kandang sehingga dapat dengan mudah terjangkau oleh anak kandang/peternak selain itu juga dapat dengan mudah (dan murah) dilakukan pemupukan (dari pupuk kandang).

2. Meningkatkan produksi protein bagi kebutuhan ternak per luasan areal tanam. Seperti diketahui, nutrisi terutama protein rumput gajah tidak terlalu bagus. Caranya bisa dengan mengkombinasikan rumput gajah dengan tanaman leguminosae semak berprotein tinggi seperti Lamtoro (Leucaena leucocephala), Kaliandra (Calliandra calothrysus) dan Gamal (Gliricidia sepium). Atau dengan legum merambat seperti Kacang Sentro (Centrosema pubescens), KembangTelang (Clitoria ternatea), dan Kacang Ruji (Pueraria phaseoloides). Selain sebagai sumber fiksasi nitrogen dan penyubur tanah, juga sebagai pakan tambahan yang sangat berguna bagi ternak.
Gamal, tanaman kombinasi yang baik.

Gamal, tanaman kombinasi yang baik.

3. Meningkatkan nilai ekonomi lahan dengan melakukan penanaman rumput gajah dengan metoda lorong pada tanah yang relatif datar dan metoda sengked pada tanah berkontur miring.
Tanaman sela harus yang memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya jenis tanaman semusim seperti Jagung (Zea mays), Kacang Tanah (Arachis hypogaea), Sorghum (Sorghum bicolor, Sorghum vulgare).
Dapat juga digabung dengan tanaman keras seperti Sengon (Albizzia falcata), Suren (Toona sureni) dan sebagainya yang disesuaikan dengan kapasitas dan karakter lahan.

4. Perlulah kiranya di pikirkan lebih lanjut mengenai metoda produksi rumput gajah, baik penanaman, pemeliharaan dan pemanenan yang lebih efisien dan berdaya guna.

5. Kami juga sempat mencoba menggembalakan ternak langsung di kebun rumput gajah, hipotesa awal kami, menggembalakan ternak langsung di lahan rumput gajah dapat mengurangi tenaga pemanenan .
Hasilnya, kami tetap saja perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk melakukan pengendalian dan pengawasan ternak, untuk menjaga agar rumput gajah tidak over-graze (dimakan secara berlebihan) sehingga menganggu pertumbuhan. Dan terutama, rumput gajah tidak tahan injakan dan kondisi over-grazing

Pustaka:

1. http://www.hear.org/pier/species/pennisetum_purpureum.htm
2. http://aquat1.ifas.ufl.edu/penpur.html
3. http://www.fao.org/WAICENT/FAOINFO/AGRICULT/AGP/AGPC/doc/Gbase/DATA/Pf000301.htm
4. http://www.fao.org/ag/aga/agap/frg/afris/Data/137.HTM
5. PROSEA, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara buku 4, PT. Balai Pustaka, Prosea Indonesia